Tampilkan postingan dengan label Mengejar Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengejar Sekolah. Tampilkan semua postingan

AYUNAN ADIK Dan PERANG


Hari itu adalah hari dimana aku merasa bahagia, Adiku sudah terlahir di dunia ini sejak beberapa waktu yang lalu, dia sangat cantik, cabi dan menggemaskan.  Aku duduk bersama temanku Tati, menganyun-ayunkan ayunan adiku yang terbuat dari kain batik yang diiket oleh dua utas tali tambang, sementara adiku yang terbedong direbahkan diatasnya. Kami juga bercanda riang saat adiku tertidur di ayunan itu. Sembari memongmong, kami bermain boneka dan kartu wartet, saat itu tati bercakap dengan bonekanya

(“Panda, kamu sedang ngapain.???” )

Lalu ibuku memotong clotehan sigadis mungil itu, gadis kecil yang selalu riang yang hampir setiap waktu menemani hari-hariku, yang selalu membawa teman-teman bonekanya saat kerumahku

(“Tat,makan sonoh tat  udah makan siang belum?, Nang ajak temenya makan sonoh!” )~Ibu

lalu Ibu menyuruh kami makan siang, tanpa disadari memang perutku tengah lapar, menengok kearah jam dinding itu, pantas saja waktu sudah menunjukan pukul setengah 2 siang, sudah saatnya kami makan siang. Aku mengajak tati untuk makan bersama, sementara ibuku mengambil alih adiku.

(“Ayo tat Ambil piringnya dirak piring, cari saja yang sudah kering sebagian masih basah, maklum ibuku baru kelar mencuci…!” )
(sepertinya sudah kering semua, Oh ya pake lauk apaanya?” ) ~Tati

Dan aku membuka kerudung saji dimeja, tempat dimana lauk itu diletakan, ternyata ibu memasak semur tempe dan ikan goreng yang didapat dari hasil mancing Bapaku beberapa waktu yang lalu.

(“Lauknya semur tempe dan ikan goreng tat..” )
(“Waaahh inisih makanan favoriteku..” )~Tati
“Shyukurlah kalau begitu tat..yasudah ayo kita makan!”

Kami makan siang bersama dengan lauk seadanya di bawah ayunan adiku bersama ibuku. Kami sangat lahap menikmati makanan ini. Selang beberapa lama tiba-tiba aku mendengar becak Bapak di depan, ternyata benar sekali, bapak sudah pulang lebih cepat dari biasanya. Akupun tak lupa untuk mengajaknya makan bersama

(“Pa , makan pak??”)
(“Sudah makan saja, bapak masih leleh, mau ngopi dulu”)~Bpk

Sementara ibuku membuat kopi, Tati telah selesai menghabiskan makananya, dia lebih cepat  hanya soal untuk urusan makan, lalu Bi Carem neneknya Tati memanggilnya

(“Tat pulang, nohh ada teman sekolahmu nanyain PR!”)

Kelasku dan kelasnya tati berbeda, saat itu Tati sudah kelas 5 SD, jadi dia adalah kakak kelasku, tetapi aku memanggilnya tidak dengan kata-kata Kakak/Teteh, karena kita sudah berteman sedari kecil dan dia memintaku untuk memanggil namanya sajah, katanya takut disangka  sudah tua.

(“Iya ne, tunggu sebentar aku merapikan mainanku dulu” )

saut Tati sembari merapikan mainanya.
Saat aku baru menghabiskan santap siangku ku lihat dia membereskan mainanya yang dia bawa dari rumah yang lumayan banyak, lalu inisiatif aku menawarinya bantuan. Tak menunggu waktu lama seusai Tati Pulang, tiba-tiba tiang-tiang listrik dijalan dibunyikan menggunakan batu Ting…Ting…Ting…Ting…Ting, Serentak Suara-suara Wanita setengah paruh bayah menjerit tandanya malapetaka

(”Cepat–Cepat Cari perlindungan,,,perang sebentar lagi !!”)

Nadanya serak, bunyi Sirinepun terdengar dimana-mana mempringati tanda yang amat gawat.  Langkah-langkah kaki para anak muda sudah mulai berhamburan, pemuda-pemuda pilihan yang bertugas mengamankan pertahanan yang dibekali samurai. Suara-suara orang–orang panik sudah semakin keras dan terdengar ubahnya gemuruh. Sejenak ketenangan yang barusan aku rasakan, menjadi suatu yang menakutkan dan suram, laksana desa pegunungan yang tenang asri dan nyamanpun seketika luluh lanta manakala lahar dingin, api dan suara letusan terjadi dan bahkan para binatangpun akan turun tergesa-gesa membabi buta, meninggalkan kekosongan.

Memang Sudah berlangsung perang sejak lama dikampung kami pemicunya persoalan sepele, mulanya hanya karena saling mengejek dan saling mengeraskan urat leher kala anak-anak muda mengikuti pertandingan bola di kampung sebelah, saat itu polisi tak begitu berarti, perang baru usai ketika aku sudah kelas 4 SD.  Perang ini tidak bisa diperkirakan, saat kapanpun musuh datang, kami harus siap bertempur atau berlidung, tidak ada toleransi meskipun kami sedang sekolah, sedang mengaji atau bahkan sedang bermain, kami harus cepat-cepat cari perlindungan. Saat itu wajah ibu begitu panik dengan polosnya aku bertanya.

(“Ada apa ya bu, Kok Rameh sekali?”)
(“ Kamutoh malah nanya kaya dak biasa ajah, itu udah mulai perang cepat kamu siap-siap , beresin apa yang mau kamu bawa, kita ngungsi kerumah Ede(panggilan kakek dan nenek dari orang tua Ibuku)!”

Perang ini selalu saja terjadi , tepat di depan dan samping rumahku selalu dijadikan arena untuk genjatan senjata. apalagi dengan lokasi rumahku yang berada paling ujung di utara dan disekitar sampingnya area persawahan semantara didepan rumah ada dermaga perdesaan, hal ini menjadi lokasi yang empuk untuk berperang apalagi musuh datang dari arah utara maka disinilah lokasi pertama lalu lintas para perusuh yang sok pembrani.Tepat di dermaga, didepan rumah kami sudah siap para pemuda berbadan algojo-algojo dan para pemuda desa berjaga–jaga menanti kedatangan musuh. Setelah ibu menyiapkan keperluan untuk mengungsi adiku digendong dengan Tapih yang di  balut di punggung Ibuku, kemudian adiku diselimuti agar tidak masuk angin dia tertidur di dekapan Ibu sementara bapaku menyiapkan becaknya untuk pergi mengungsi.

(“Ayo cepat Naik becak, biar cepat sampai, buruan sebentar lagi musuh sampai!”)

Bapak meminta kami untuk cepat bergegas, sementara orang-orang lain sudah lebih cepat sampai di tempat perlindungan masing-masing, maklum saja karena mereka memiliki kuda bertenaga mesin.
Sesampainya dirumah Ede, Bapak langsung pamit pulang untuk menjaga rumah, kawatir musuh masuk  atau membakar rumah, ini memaksa Bapak untuk menjaga rumah dan ikut berperang bersama. Dalam hati kami sungguh kawatir jika seandainya terjadi hal buruk dengan bapak, tetapi kami meyakinkan diri pasti Tuhan melindunginya, sembari kami mendoakanya. Lama kelamaan, jam terus berputar dan berlalu, semakin banyak suara-sura gemuruh  di sekitar rumah Ede, tak ku sangka  bapak datang tergesa-gesa ke tempat kami, kemudian bapak meminta kami untuk lari, mencari tempat pengungsian yang lain, kemudian kami mengungsi lagi di pertengahan sawah yang jauh dari lokasi perang, lokasiya berbatasan dengan lahan sawah desa sebelah, otot-otot betis kaki kami rasanya mengencang, akibat kami berlari terus-menerus.
Bapak menyertai kami ke lokasi tersebut karena kata bapak Musuh berhasil menerobos masuk pertahanan dan sekarang sudah sampai sekitar rumah Ede. Aku, Ibu dan Ede perempuan serta Kom diungsikan oleh bapak di pertengangah sawah yang tidak memungkinkan musuh menjamahnya, Sementara Ede laki-laki tetap ditempat untuk menjaga rumah.

(“Lantas bagaimana dengan rumah kita pak?” )
(“Tenang, tak usah kawatir sudah ada kakekmu yang jaga(ayah dari bapak), kakekmu itu orang sakti jadi tak usah kawatir. Lagipula sebentar lagi bapak kembali kesana untuk menemani kakek menjaga rumah dan ikut berperang !!” )

Setelah bapak menyertai kami sampai pada tujuan, setibanya disana bapak bergegas kembali ke lokasi untuk ikut berperang dan menjaga rumah.

(“Yasudah kalian ati2 ya disini, klo ada apa-apa cepat pergi cari tempat berlindung yang aman lagi, bapak mau kelokasi…Bapak pamitbu…”)
(“Yasudah,,ati-ati loh pak!”)

Ternyata tak ku duga, ditempat ini juga banyak terdapat orang-orang mengungsi, hampir semua pengungsi memilih lokasi ini untuk berlindung dan menyembunyikan diri, Kamipun disana bercengkrama dengan pengungsi-pengungsi lain, Kami akan tetap berada disini sampi para musuh berhasil diusir Sementara aku tidak melihat teman-teman dekatku yang lain disini, mugkin mereka berada ditempat perlindungan yang berbeda, jadi aku hanya bermain-main bersama kom dan anak-anak pengungsi lain yang baru saja kukenal.

Kami anak- anak bermain dengan riang ubahnya tidak ada beban dan sesekali aku meledeki adiku yang dipangkuan ibuku. Kerap kali jua Ibu-Ibu menyuruh kami untuk mengintip dari atas pohon kawatir ada musuh yang mendekat. Setiap ibu-ibu memegang senjata entah golok, balok, pedang atau linggis untuk berjaga-jaga juga senter untuk keperluan penerangan di malam hari sementara anak-anak yang beranjak remaja dibekali ketapel untuk menyerang musuh yang mau mendekat tak lupa pula membawa makanan untuk keperluan perut dan tenaga. Kami bertahan ditempat ini berjam-jam lamanya, sampai musuh berhasil diusir. Ketika malam hari menjelang, keadaan sudah kembali normal, para musuh-musuh berhasil diusir dan kami kembali kerumah masing-masing dengan selamat sembari melihat jalanan rusak luluh lanta, momen itu adalah momen kelam yang selalu kuingat dan tak terlupakan juga sandungan dalam bermimpi, sederhana saja, kami bermimpi menginginkan kedamaian, ketentraman dan keindahan dikala dihari-hari kami.






Title : Mengejar Sekolah
By : Ali Blazing

v
Untuk Ibu,Ibu,Ibu bapaku tercinta,
Orang tua terhebat sepanjang masa

NAIK BECAK KE PASAR

Siang itu kami pergi kepasar membeli perlengkapan sekolahku, karena sesaat lagi  aku akan naik kelas 3 SD, hari itu hari libur sekolah setelah pembagian raport kemaren, nilaiku tidak begitu tinggi, namun juga tidak terlalu buruk, aku mendapat nilai aman. Wajar saja bukan sebab aku bodoh, padahal setiap malam aku belajar, mungkin karena aku hanya mengandalkan pelajaran dibuku tulis yang ku catat dari papan tulis ibu guru, tidak seperti anak-anak lain yang mudah membeli buku paket ke toko buku, dapat belajar saja untuku sudah bersukur. Aku sangat gembira  akhirnya aku bisa berjalan-jalan bersama Ibu, bapak dan adiku yang masih berada dalam kandungan. Para-para lalu lalang dijalanan membuat suasana ini menjadi lebih menarik.

Sesaat kemudian kita sudah sampailah disebuah pasar, aku melihat para ibu-ibu itu mengenakan baju-baju indah, gelang, kalung dan cincin emas yang menawan nan nyentrik. Aku merasa Iba melihat ibu-bapaku yang nampak kusam dan  kumal memakai kaos murahan itu ubahnya kaos kuli. Namun aku selalu bertanya pada diri sendiri mengapa malah kulihat mereka tetap bisa tersenyum, pikirku dalam benak ini?. Ahhhh aku berfikir kacau, memang Ibu, Ibu, Ibu dan Bapak adalah sang motivator besar sang juara di seluruh dunia yang mengulurkan tanganya kala aku tersandung, mereka adalah orang tua terhebat sepanjang masa, maafkan aku tuhan aku tidak mensyukuri nikmatmu, aku beristigfar, sang ustadz juga selalu mengajarku untuk beristigfar saat-saat kami lupa bersukur. Keadaan membuat cara berfikirku lebih dewasa dari usiaku yang 6.5 tahun dan duduk di kelas 2 SD ini. Setelah berapa lama kami berjalan mencari keperluan sekolahku, terdapat seorang wanita separuh baya yang duduk tersimpu dengan kaleng rombengnya di sebuah jamban toko,  beliau berkata..

(“Buuu,,Saya sangat butuh uang, ,,tolong bantu saya bu !!“) 
Tetapi aku sungguh tak percaya akan apa yang baru saja kusaksikan, taku duga Ibu memberikan sedikit uangnya dan memasukanya kedalam keleng rombeng wanita itu,
(“Maaf Bu, Saya cuman bisa kasih sedikit. Semoga membantu ya bu…”)

bukankah ibu sangat membutuhkan uang itu? Aku bertanya dalam hati kecilku. Bapaku tidak banyak bicara, ya mungkin hanya sesekali berbicara dengan ibuku.

(“Nang, kamu mau jajan makanan apah?” .. )
Lalu ibu menawariku untuk membeli jajanan, aku berfikir sejenak, kemudian karena menyukai pedas, aku minta saja ibu membelikan rumbah (makanan sejenis gado-gado) ,
(“Aku ingin rumbah itu bu?”)

kemudian Ibu membelikan rumbah itu dan setelah semua urusan di pasar selesai, kami hendak ke parkiran becak untuk pulang,  namun dijalan tak sengaja aku melihat temanku  dibelikan banyak barang mainan seperti Gimbot, Spatu roda, DVD dll oleh ayahnya aku sedikit kesal menatapnya dari kejauhan. Lalu bapaku menatapku sembari memegang pundaku, beliau berkata.

(“Jangan iri nang, Kamu memang terlahir dari kluarga sederhana, Kamu sendiri yang akan membuat keluarga ini jadi bahagia dan sejahtera…!!”)

Aku berkedip, lalu kami bergegas, aku berjalan menunduk melihat persis ujung kedua kakiku dan aku merenung, mengapa setiap kali aku merasa rendah, aku selalu melihat semangat dari ibu dan bapaku sementara aku tau mereka telah berjuang keras untuku, mereka itu lemah tetapi mengapa mereka itu tidak pernah menyerah dan mengambil keputusan lain, padahal seandainya aku tidak sekolah mungkin beban mereka berkurang.

Tak lama kemudian kami sampai diparkiran dan bergegas pulang. Sepenanjung jalan, Bapak bertemu dengan teman-temanya  dan ngobrol-ngobrol ringan beberapa saat, mereka terlihat cukup dekat. Lalu, ketika kami sampai di kampung Ciberen yaitu kampung yang menghubungkan  pasar dan kampungku, aku melihat seorang anak kecil sebayaku sedang mengucapkan salam di emperan-emperan warung dan kemudian menyanyi diiringi kencringan tutup limun, lalu tuan rumah memasukan receh ke kantong plastiknya sungguh suram sekali kehidupanya. Karena kejadian itu, sejak saat itu aku merasa lebih beruntung dan aku bersukur terlahir di keluarga ini. Meskipun aku serba kekurangan tetapi ibu dan bapak tak pernah sekalipun menyuruhku untuk menjadi seorang pengamin seperti pemain kencrengan tutup limun itu.



Title : Mengejar Sekolah
By : Ali Blazing

v
Untuk Ibu,Ibu,Ibu bapaku tercinta,
Orang tua terhebat sepanjang masa

AKAR PALEM DAN SEPATU KRACA


Siang hari sepulangnya sekolah, aku dan kom bermain di lapangan tengah kumparan ladang, rerimbunan alang-alang dan pohon–pohon yang menjulang tinggi itu sangat membuat kami nyaman, apalagi anginya yang sepoy-sepoy jadi bukan mustahil ini juga menjadi tempat bermain favoriteku, hanya saja tempatnya agak jauh dari rumah kerana berada di tengah–tengah hamparan persawahan, sayangnya bila musim hujan tiba kami tidak dapat bermain disini, karena tanahnya pasti akan menjadi kotor bak lumpur.  Kom adalah pribadi yang unik, terkadang ia lucu, terkadangpun juga menyebalkan, tapi dia sungguh anak yang pintar, ia selalu mengerti lebih awal dibandingkan diriku dan anak-anak lain dikelas, Kom sebenarnya pamanku,  kita hanya berbeda beberapa tahun, dia berusian lebih tua dariku, kami berlatar belakang dari kluarga yang sama yaitu Bapaku dan Bapaknya sesama tukang becak. Karena masih anak-anak sebaya jadi selain bersodara, kita juga bisa menjadi teman bahkan sahabat.

Saat ini kedua kawanku yang lain Tati dan Wan sedang tidak ada dirumah, sementara Dod anaknya sedikit bandel, saat itu dia sedang bermain di kampung sebelah.

(“lihatlah grombolan burung itu, terbang bebas diatas langit, mereka mengepakan sayap-sayapnya dengan riang. Andai saja suatu hari nanti aku dapat menerbangkan mimpiku seperti para burung itu..”)
(“Hahahahahah....jangan banyak bermimpi, kata orang jangan terlalu tinggi bermimpinya, nanti jatuhnya teramat sakit!. Tapi lebih sakit aku kalau jatuh, kan aku mimpinya jadi pilot kalo jatuh dari atas pasti sakit sekali,,hahahahahaha”) 
(“Hahahahaha, brarti kau harus merubah mimpimu….!!”)
(“Waaah aku tak akan merubah mimpiku, akukan sangat menyukai pesawat dan roket,,,”)

lalu perbincangan kami mendadak terpotong, Bungkam seketika manakala seorang bapak petani yang bercaping coklat dan berbaju putih kotor serta tak beralas kaki yang tiba-tiba melintas didepan kami dengan memikul paculnya sembari bersiul.

Sejenak kami terhening karena bapak itu bersiul bak suling nan menenangkan ubahnya musik relaksasi, sesaat kemudian, dari kejauhan nampak sesorang berjalan perlahan-lahan ke arah kami, ternyata ia teman kami yang sengaja menghampiri dengan maksud mengajak bermain sepak bola, kebetulan saat itu aku ingin sekali bermain sepak bola, namun ia yang duduk disampingku tak dapat bermain bersama, alasanya dia harus pulang mengangkat jemuran nasi kering diatas atap rumahnya, maklum saja neneku atau ibunya sedang di ladang, jadi hari ini ia tak boleh berkutik banyak.

Lalu aku membuntuti temanku yang berjalan kearah lahan kosong tetapi dipenuhi pohon palem disekelilingnya, lahan itu kami jadikan lapangan, sementara kom beranjak kerumahnya. Sesampainya dilapangan langsung saja kami berbagi regu bermain sepak bola, kebetulan saat itu aku mendapat posisi sebagai penyerang, aku terkejut tiba-tiba teman–teman lain memakai sepatu keraca, sementara aku hanya mengenakan sandal ceplek, maklum saja aku hanya mempunyai satu-satunya sepatu saat itu, itupun aku pakai hanya untuk keperluan sekolah, tetapi itu tidak mengurangi rasa semangatku dalam bermain, aku terlampau lincah prihal menggiring bola, sampai terkadang lawanku harus menyeledingku dengan sledingan tangkel  untuk merebut bola dari penguasaanku.

Aku tak mengenakan alas kakiku agar sandal jepitku tak putus akibat menendang bola, selama permainan, tiba-tiba tak sengaja kakiku menebas akar pohon palem di sekitar lapangan, akarnya menancap di telapak kakiku sebelah kanan, rasanya sakit setengah mati, akarnya lumayan besar, aku terjatuh, terlebih temanku dengan sepatu keracanya tak sengaja menginjakan kakinya tepat pada bagian kakiku yang tertancap lalu aku terkapar menahan rasa sakit ini dan sesaat bernafas berat. Selang beberapa lama ibuku menemuiku dilapangan, beliau memarahiku.

(“Sudah dibilangin jangan Main bola terus, jadi beginikan akibatnya, bola tidak akan membuat kamu jadi sukses, mau jadi apa kamu kelak!!”)

Lalu akar palem yang bersarang dikakiku dicabutnya dengan dicutik menggunakan gunting kuku, aku meringis menahan rasa sakit, rasanya sungguh tak karuan.  Kemudian ibuku memijat kakiku kawatir ada yang keram atau ketep, aku makin meringis, sejak saat itu ibu melarangku bermain bola, rasanya teramat kecewa karena sepak bola adalah mainan favoritku, tetapi bagiku tak ambil pusing, mungkin ibu bercanda palingan besok aku diijinkan untuk bermain lagi, suara hatiku mengatakan demikian. Di sela-sela lirihanku kala memainkan nafas dan kakiku yang kaku bak membeku, ku tengok para-para semut hitam yang berjalan berbaris di pagar rumahku, pikirku merenung andai setiap  manusia mempunyai sifat seperti semut-semut hitam yang berbaris itu, mereka  begitu sopan setiap bertemu bersalaman, membangun rumah bergotong royong, kerap mendapat makanan selalu bersama-sama, selalu berbagi satu sama lain dan menganggap individu lain penting, mungkin tidak akan ada orang miskin seperti kluargaku dan mungkin juga ibuku pasti mampu membelikanku sepatu keraca seperti teman-temanku, tetapi sejenak pula kuingat kata-kata pak ustad, beliau pernah bilang kita harus bersukur walau seperti apapun keadaanya, kita juga tidak boleh bergantung pada orang lain, pasti setiap insan ditakdirkan berbeda-beda dan baik atau buruknya takdir itu, tergantung seberapa besar dirikita untuk mensukurinya. Sedikit aku dapat menghilangkan rasa hening dipikiranku dikala mengingat kata-kata itu lalu aku beristigfar dan tak lama ibu menyuruhku makan.

(“ Kamu makan dulu, dari pagi  belum makan, terus tidur siang dan istirahat!!”)
(“Iya bu…..!”)

Aku menuruti perintahnya, meskipun sebenarnya aku tidak suka tidur siang, namun untuk hari ini tak apa, toh kakiku juga sedang sakit jadi akupun tidak mungkin bisa banyak bergerak, walau hatiku tak rela. Apalagi maksud ibuku baik, aku juga tidak ingin ibuku  kecewa lagi terlebih ada adiku saat ini di perutnya.

Beberapa lama kemudian kira-kira pukul lima sore ketika aku sedang terlelap, kudengar suara becak bapak yang membangunkanku tidur pulasku, lalu kulihat keluar ternyata bapaku membawakanku segendel buah rabutan, ini membuatku langsung bersoak horeee dan buru-buru melahapnya, tetapi sengaja tidak aku habiskan agar bapak dan ibuku juga ikut bisa merasakan manisnya, sebenarnya bapaku baru sembuh setelah beberapa hari yang lalu sakit, tapi bapak memaksakan diri untuk menggais riski dengan menarik becak di pasar.

Sesasat kemudian aku mendengar kembali langkah kaki para petani pulang dari ladang sawah mereka, begitu seragem, kemudian pintu-pintu itu ditutup karena waktu sudah semakin gelap dan bolham lima watt juga menyusul kami nyalakan. Malam ini aku tak belajar mengaji di musola karena ustadz kami sedang ada undangan diluar kota, terlebih kakiku terbelenggu sedang sakit, jadi aku hanya belajar saja dirumah ditemani ibu dan bapak, beberapa hari-hariku mungkin akan merindukan sepak bola, selamat malam bola jingga yang kini tengah terbenam.






Title : Mengejar Sekolah
By : Ali Blazing

v
Untuk Ibu,Ibu,Ibu bapaku tercinta,
Orang tua terhebat sepanjang masa

Ranggawana


Dipagi yang terang benderang, aku berada di depan gubuk yang kami katakan istana, dimana sekitarnya adalah lahan persawahan tempat dimana orang-orang bekerja dan bertahan hidup menyongsong rezeki, menggantukan kehidupanya yang didapat dari hasil peradaban padi, sang sri putih hasil rengkarnasi gabah yang menjadi kebutuhan pokok mayarakat seantero negri ini.

Aku mendengar para ayam berkukuruyuk, para petani berjalan seperti suara–suara grak jalan paskibraka, tak luput gremicik air selokan dan angin yang mengenai dedaunan di sawah, seragam iramanya terdengar ubahnya nada-nada angklung. Saat itu aku duduk di amben depan emperan rumahku, Aku bersiap memakai sepatu, semantara ibu menyiapkan sarapanku.

Paska sarapan dan semua kebutuhan sekolahku sudah diletakan kedalam tas, aku bergegas ke sekolah seorang diri, karena Tati sedang sakit, wan sudah berangkat terlebih dahulu sementara temanku Dod sedang berlibur di rumah sodaranya di garut dan bapaku tidak dapat menghantarkanku dengan becaknya karena beliau juga sedang terbaring sakit hingga merebahkan diri dan menahan keegoisanya untuk mendorong si roda tiga. Aku berjalan, titah demi titah melangkah menitah jiwa untuk bersemangat, meski hatiku sangat getir melihat keadaan bapak yang lemah. Sementara mereka menggunakan kuda besi dihantarkan ayahnya kesekolah. Saat itu aku berhayal seandainya Bapaku memiliki kuda besi layaknya mereka-meraka itu, tentu pekerjaan Bapak akan lebih ringan paling tidak Bapak akan menjadi tukang ojek motor. Ini lebih baik jika dibandingkan menggoes becak yang berat menempuh puluhan kilo, sekarang telapak kakinya sudah tak bagus rupa.

 Jarak rumahku ke sekolah lumayan jauh sekitar 1 KM. Aku bersekolah di Ranggawana, Ranggawana diambil dari nama mendiang sorang tokoh setempat yang dipercaya sakti mandraguna, begitulah sedikit silsilahnya yang ku kenal.

Setibanya disekolah, Ibu Isa guru kami menyiapkan perlengkapan upacara rutin setiap hari senin dengan jiwa semangat membumbung bak setinggi  gunung Cerme yang selalu terlihat diwaktu fajar dari kampungku, kemudian aku dan teman-teman berdiri di barisan paling depan menghadap tiang pusaka itu, semua nampak dengan sikap siap untuk ambil hormat menunggu para  regu pengibar bendera memberikan aba-aba, setelah para regu pengibar sampai di depan tiang putaka dan benderanya sudah siap dikibarkan kemudian aba-aba itu di lontarkan

(“Bendera siap!”)
Lalu seorang pemimpin upacara memberikan instruksi hormat untuk para regu dan semua peserta upacara kepada sang saka  merah putih
(“Kepada sang saka merah putih Hoooormaaat Grak !!!”)
serentak semua murid tak terkecuali diriku langsung mengambil sikap hormat juga para guru dan para petugas sekolah.

Tangan kiri dalam keadaan lurus kebawah dan dikepalkan, sementara tangan kanan posisi hormat tepat diatas pelipis alis sebelah kanan. Kami semua menghayati berkibarnya sangsaka merah putih itu diiringi dengan lagu kebangsaan  indonesia raya seperti yang ku tuliskan pada lirik berikut

  

INDONESIA RAYA


Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu Ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya


Cipt. W.R. Supratman



Ketika lirik lagu itu di kumandangkan oleh para regu obade , tidak ada yang memaklumi tangan kananya untuk lurus kebawah, kami ambil sikap hormat ubahnya para pahlawan negeri ini dimasa lalu atau masa-masa ketika negri ini dirundung kesulitan, aku seperti menatap para pejuang di medan pegagan “nama kampungku”.

Tak berapa lama kemudian saat rangkaian upacara telah usai kami semua bergegas masuk kelas, saat itu Ranggawana hanya memiliki 4 ruangan kelas yang digunakan secara bergantian. Ibu Isa memasuki ruangan, namun wajahnya begitu cemas, ujung jari tanganya gemetar dan sorot matanya datar sepertinya beliau melihat ada kegawatan. Jelas saja beliau menghawatirkan kondisi ruangan yang bobrok dan atap-atap yang grepses yang bisa saja menimpa kami.

Aku duduk di meja ke tiga dari deretan pertama posisi sebelah kiri, semua nampak semangat untuk belajar tak terkecuali ibu guru kami yang terlihat sangat cemas dan selalu melirik ke atap-atap langit kelas dikala beliau menggoreskan kapurnya di papan tulis hitam lekat itu. Waktu terus berlabu, tak lama kemudian lonceng kaleng karat berbunyi dua kali, sudah waktunya kami beristirahat dan Ibu guru menyuruh kami semua beristirahat diluar kelas

(“Anak-Anak sudah waktunya istirahat, silakan semua istirahat diluar kelasyahh!”)

 aku melihat beliau lebih segar dari sebelumnya dari wajahnya yang bertumpuk kekawatiran kini nampak lebih baik dan sedikit berseri, juga wajahnya yang merona kembali kuning langsat.

Aku bersama kedua temanku Kom dan Rus bermain di deretan bangku jamban diantara para pedagang dan beberapa teman-teman yang lain membeli banyak makanan, sementara aku lebih memilih untuk berhemat, maklum saja uang sakuku hanya lima ratus rupiah. Sebenarnya aku masih bisa kalau-kalu hanya sekedar ikut menemani jajan bersama teman-temanku walau aku tak bisa membeli apa yang kebanyakan orang beli. Namun aku lebih memilih untuk ditabung untuk jika suwaktu saat aku memerlukanya untuk membeli sepatu atau buku setidaknya ibuku hanya menambahkan sedikit uang bila nantinya keperluanku itu kurang, uang limaratus perak tidak sangat kecil di tahun dua ribuan bagi keluarga kami.

Hari-hari disekolah masih serupa, dijam istirahat  Castadi, Wiwin dan teman–teman lain sedang asik bermain cakdok dan kucing-kucingan di lapangan, mereka mengajaku.
(“Li ayu main cakdok yuk…atau kucing-kucingan bola!”)
Namun aku memikirkan bila aku bermain lari-larian dan  bola, sepatuku sobek atau bolong tentu akan menyusahkan ibu dirumah, ibu pasti perlu waktu untuk membeli sepatu ini lagi terlebih aku sedang asik ngobrol dan bercanda bareng bersama Kom dan Rus, mungkin kala itu emut dan dewi fortuna tak berpikak padaku, dengan terpaksa aku menolak ajakan mereka, jadi hari ini aku hanya duduk becanda bersama kom dan rus, padahal aku ingin sekali bermain cakdok atau kucing kucingan bola bersama mereka, tapi tak apa yang penting ada yang menemaniku, mungkin suatu hari nanti aku dapat berlarian secepat pesawat lepas landas atau kuda liar, hari ini aku lebih memilih menjadi kura-kura jinak.
 
Setengah jam kemudian, tiba-tiba lonceng kaleng berkarat itu dibunyikkan dengan pentungan besi karat jua oleh petugas sekolah, kebisingan  anak-anak bermain dengan suara Cak dok…Cak  dok, yang kena dodok itupun telah lenyap.  Dan ibu Isa kembali memasuki ruangan kelas kami, wajah cemasnya kembali ditunjukan disela–sela belajar, lalu sesaat kemudian satu demi satu dari kami ditanyakan mengenai sebuah impian, Yaahh cita- cita akan sebuah tujuan hidup untuk membawa harapan yang leih baik.

(“Anank-anak , sekarang ibu mau bertanya cita-cita kalian satu persatu..!. Kalian pasti punya cita-citakan..”)
(“Punya bu..!”)

Saat itu temanku Kom mempunyai cita–cita ingin menjadi Pilot atau Astronot, sementara aku ingin menjadi sesosok pahlawan didepanku dialah seorang guru, dan setiap anak ada yang mempunya cita-cita yang sama namun ada juga yang berbeda. Saat pembelajaran berlangsung ada bahasa yang tidak lebih halus dari bahasa ironi yang membuat aku terhanyut dalam kesedihan, aku menangis dalam hati, ragaku gemetar lebih besar dari rasa gemetar dikala menggigil kedinginan bahkan nadiku bergerak tak beraturan juga embun-embun kepalaku yang bak mau meledak. Saat dimana salah seorang temanku menyeletuk

(Bapak kamukan cuman tukang becak, bagaimana mungkin kamu bisa jadi guru? ..hahahahaha…!!!”)

Ketawa itu menghancurkanku seketika, Clotehan itu membuat aku semakin murung dan mati kutu, mungkin aku ingin marah tapi rasa sedih itu menutupi marah ini sampai wajah memerah merona, yah bagaimana mungkin aku tidak sedih dan marah bila bapaku dihina beberapa teman kelasku, sementara aku juga sedih clotehanya seolah tidak adanya harapan bagiku, mereka terkesan membungkan anganku. Ibu Isa menundukan kepalanya kemudian menghembuskan napasnya secara berlahan, lalu beliau mengatakan.

( “Anak–anak jangan brisik ,Teman kalian itu mempunyai cita-cita yang bagus, jadi kita sebagai teman harus mendukung, guru itu sangat berjasa di negri ini, tanpa guru kalian tidak akan menjadi pintar… jadi anak-anak pahamyah..?, semua orang punya kesempatan sama!”)

Aku semakin membisu, tapi kata-kata ibu isa membuatku sedikit lebih lega dan menahan kehilafan, aku semakin yakin akan sebuah harapan itu, suatu hari mungkin ini bukan hanya sekedar harapan kosong, hidup mungkin bagaimana cara kita memikirkanya itulah kata-kata ibuku yang selalu ku ingat. Andaikata nasib seseorang tidak pernah berubah mungkin negara ini tidak akan pernah merdeka dan Pak Soekarno akan gagal mengemban tugasnya. Tapi nasib dapat berubah, kenyataanya Indonesia sekarang merdeka, merdeka dari penjajahan. Yaaah saat itu aku merasa mungkin lebih pantas untuk tersenyum, tersenyum saat itu mampu membuatku percaya kelak kebahagiaan dan cita-cita itu akan ku gapai. Ibu Isa melirik kearahku dengan senyum yang menghilangkan rasa putus asaku. Apa lagi ada foto bung karno sang proklamator di dinding itu, aku semakin percaya kelak aku akan menjelma menjadi seseorang yang berhasil.

Meskipun hari itu  menjadikanku merasa pilu, tapi aku yakin aku pasti bisa melewati perjuangan ini.  suatu hari nanti, Tuhan pasti akan mengijabah semua doa dan usahaku, usaha ibu dan bapaku. Kemudian sayup-sayup kudengar kembali diantara puluhan cita-cita yang terutarakan dari puluhan suara teman–teman kelasku, lalu ibu guru mengatakan bahwa dirinya bangga terhadap semua siswa, menurutnya kami semua mempunyai cita-cita yang mulia, beliau mendoakan kami agar semoga kelak menjadi orang yang berhasil. Hari itu aku berpulang kerumah seusai sekolah sembari membawa doa, harapan juga dorongan semangat dari guruku,

WEJANGAN






Awal mulanya, sore itu dibawah naungan atap-atap bocor nan di terangi tembusnya sinar jingga, sementara diluar sanah meliuk-liuk suara  nada murai batu dan terselip nyanyian gemuruh kuda besi, sang siang yang sudah mulai menutup laga dan segera bermetafosa menjadi gelap gulita, pria tua dengan wajah lesuh dan kusam duduk diatas amben-amben reog dan tirus pipinya terpapak surya terlihat nampak setengah gerhana, tersedia pula secangkir teh hangat dan kipas anyaman bambu, Ia berkata dihadapan cucunya bersama petuah akan sebuah bentuk prilaku kebaikan sesama manusia.

(“Nangkamu jadi anak yang baik dan bersikap baik kepada sesama Manusia, baik orang tua, guru ataupun teman, tidak boleh nakal, jangan suka berkelahi. Shalat, Ngaji dan belajar kudu ditekuni !”)

dengan usapan  tanganya yang kasar beliau mengusap punggungku sembari menyuarakan nasihat itu, aku tak dapat menyangkal, petuahnya dapat dibenarkan.

Beberapa saat kemudian seiring mentari mulai terbenam dan sinarnya semakin menjauh di ujung barat, dibarengi bolham-bolham pijar mulai dinyalakan dan orang-orang mulai masuk rumah, senja mulai tenggelam terlahap waktu, ia meredupkan dirinya, lalu anak-anak lain menyamparku untuk berangkat mengaji.

Aku bergegas bersama mereka, kami berjalan melewati tanah krikil, beberapa warung, rumah dan pepohonan palam disepanjang jalan. Aku masih dapat mengingat akan kejadian dimana kala itu kawanku memainkan sajadahnya lalu terdampar dimataku dan seketika  menjadi perih.

 Setibanya di musola, sang ustad mulai memimpin anak-anak untuk berwudlu kemudian Shalat magrib, saat itu sebagian dari anak-anak ada yang bergurau dan bercanda riang, bahkan ketika sang imam selesai membaca surat alfatihah beberapa anak sengaja bertriak mengucapkan (Amin) dengan sangat keras dan melengking ubahnya cengkok dangdut.

Seusai shalat magrib kami belajar membaca Al-Qurr’an, satu persatu dari santri dipimpin belajar mengaji oleh salah seorang Ustad, beliau yang mengenakan muslim dengan sorbanya terlihat amat sangat relijius dan agamawan. Tetapi malam itu Tati yang sudah tahap Juz’Ama terlihat amat sangat tidak fokus hingga melakukan banyak kesalahan dikala membaca ayat Al-Qur’an, maklum saja siang tadi dia kehilangan boneka kesayanganya, mungkin hatinya masih resah.

(“Mengapa malam ini kamu terlihat tidak konsentrasi nak?”)

Sahut sang ustad, sembari menatap wajah tati yang cemas dan murung dengan raut muka kuning langsat dan mulutnya memanyun. Tetepi temanku ini hanya mengangguk dan sedikit bersuara datar seperti menahan kekesalan

(“Bonekaku hilang siang tadi ustad, sepertinya ada yang mencurinya”) 

 Sebenarnya siang tadi kami tengah bermain, aku dan teman-teman bermain klereng dilapangan yang berdebu dan selebihnya berumput juga sebagianya berkrikil, sementara Tati dan sodara perempuanya bermain boneka berambut pohon pisang klutuk. Tetapi  saat itu kami tidak tahu mengapa boneka tati yang terbuat dari daun pisang dan tangkai singkong yang diikat seutas gelang karet itu bisa hilang?, padahal tuturnya boneka itu ia simpan di depan warung neneknya.

Mungkin saja ada anak lain yang sengaja mengumpatkanya, Dod memang terkenal jahil, namun kami tidak ingin menuduhnya karena mungkin saja Tati tengah lupa menaronya. Sang uztadpun kemudian tersenyum dan menenangkan si bocah yang memasang muka kusut itu dengan nasihatnya

(“Yadusah jangan terlalu difikirkan, toh besok bisa bikin lagikan bonekanya pake daun pisang dan tangkai singkong seperti yang kamu ceritakan tadi!!, sekarang konsentrasi belajar mengaji dulu dengan benar, palingan besok sudah ketemu lagi bonekanya!”)

ia mengangguk pertanda menyetujuinya, beberapa saat kemudian tiba girilanku yang bersila di urutan ke tujuh menghadap ustad untuk mengaji, saat itu aku juga masih belajar IQ-ra. Lumayan lancar aku membacanya meskipun masih “a, ba, a, ba, ta, sa”, lalu seperti biasa setelah kami selesai mengaji, Pak Ustad kami berdakwah atau memberikan kami wejangan  seputar agama laksana sunan, berikut kutipan  yang masih terngiang di kepalaku

(“Anak yang shaleh atau soleha itu yang berbakti dan menurut pada kedua orang tua, apapun yang kita inginkan jika orang tua tidak menghendaki kita tidak boleh memaksanya, rido Allah ada pada rido orang tua”)

senggang waktu kemudian ustadpun mengakhiri pelajaran agama dan menutupnya dengan Bismilah dan salam. Setelah itu aku dan anak-anak lainya bercanda gurau di antrian setapak untuk mengambil wudlu karena memang waktu sudah menunjukan saatnya shalat izha, tiba-tiba seketika terdengar suara binatang melata yang biasa kita sebut tekek, sejenis kadal besar yang suka menempel di dinding

(“Tokototktotkotok….tekek..tokotokotokotok..tekek”)
(hahahahaha nama kamu dipanggiltuh wan, dengerin deh satu, dua, tiga, Tokototktotkotok ..tekek….tokotokotokotok..tekek..”) 

Kutegur Wan Yang mengantri didepanku kemudian para sebaya lainya tak dapat menahan tawanya, lalu berapa lama kemudian salah seorang ustadz yang mengajar para santri menghampiri kami, dan menyuruhku untuk adzan isa

(“Sudah-sudah jangan berisik, jangan bercanda terus, kasiantuh ada orang tua sedang antri mau ambil wudlu,,,!!!”)
(“Baik pak…”) 
 (“Yasudah,,, nanti abis wudlu kamu yang ajan yahhh!” )
(“Baik pak ustad”)

laksana seorang ustad, aku tak lepas semangat untuk mengambil MIC dan bersiap untuk mengumandangkan adzan. Memang saat itu ustadz begitu menyukai suaraku, tak dapat  dipungkiri mungkin saat itu suaraku masih jernih  hingga akhirnya hampir setiap saat ketika aku mengaji beliau selalu menyuruhku adzan. Walaupun masih kecil aku sangat hafal bagaimana cara mengumandangkanya, meski demikian kerap kali juga ada orang tua atau salah seorang temanku yang menggantikanku adzan dikala kami mengaji.

Seiring waktu berlabu  rangkaian mengajipun akhirnya usai, aku dan anak–anak lainya mencari sandal jepit masing-masing, lumayan sulit menemukanya, karena banyaknya santri yang mengaji akibatnya sandal–sandalpun bertumpuk-tumpun di jamban musola.

(“Hey anak-anak jangan berdesakan!!!” )

Kami mlongo saat uztad menegur yang tiba-tiba ada di belakang kami. Selesai sudah hari ini kami menuntut ilmu, lalu kemudian kamipun bergegas pulang, memang rumahku,Wan, Tati dan Dod lebih jauh dari anak-anak yang lain jadi kami kerap pulang pergi berbarengan.

Sepanjang perjalanan, malam itu diatas langit terlihat rasi bintang yang menawan, rembulan dan binar cahaya pesawat yang melewati tepat lurus diatas kepalaku, kedipan dan pancaran silaunya teramat indah, terlihat menakjubkan kala kami memandang lukisanmu yang teramat nyata.

Setibanya dirumahku yang sederhana, rumah dimana angin alam dapat menghembus kedalam melalui  celah-celah pagar yang juga bisa saja kedinginan dikala bertiup angin puyuh dipergantian musim, Ibu menyuruhku belajar untuk persiapan besok sekolah, saat itu aku masih duduk kelas dua di sekolah dasar. Kemudian aku membuka buku tulis kusam itu dan duduk diatas tikar diterangi lampu lima watt sementara ibuku duduk di jamban amben  luar.

Aku membiasakan diri untuk belajar sebelum tidur, malam ini tidak ringan seperti biasanya, karena materi yang harus ku pelajari lebih susah dan banyak. Lama-kelamaan waktu terus berjalan (“Heeeemmmmm !!!”) terasa berat sekali mata ini, apalagi karena hembusan angin yang amat sejuk masuk kedalam rumah, tak luput pula nada seragam para jangkrik semakin membuatku mengantuk, mataku tak bisa egois untuk tetap terjaga. Kemudian bapaku menggendongku ke tempat tidur yang keras itu dan menyelimutiku dengan sarung, malam ini aku tidur lebih malam. Lelap menunggu pagi untuk melakukan sesuatu kembali, malam ini aku tertidur dalam mimpi yang dalam dan menenangkan bersama lelah dan suara-suara jangkrik yang tak pernah kelam dan sirna, sementara besok aku merindukan sambel ibuku.



Title : Mengejar Sekolah
By : Ali Blazing



v
Untuk Ibu,Ibu,Ibu bapaku tercinta,
Orang tua terhebat sepanjang masa

Profile Page Screen - Flutter UI

Profile Page Berikut ini adalah contoh  source code untuk Design Profile Page menggunakan flutter,  sebelumnya jangan lupa untuk membua...